Selamat Datang di Blog Revival and Reformation.

Jika Anda memiliki pertanyaan dan/atau tanggapan sehubungan dengan artikel yang di poskan di blog ini, Anda dapat menghubungi kami lewat email: revivalreformation2011@gmail.com, atau lewat no: +6281233149970 supaya kami dapat membuat artikel tanggapan secara lengkap untuk kemudian di poskan di blog ini.

Tuhan memberkati.

Senin, 13 Juni 2011

Jubah dan Kiasannya


Ayat Hafalan:  “Sebab katanya:  ‘asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh’”  (Markus 5:28).

Pendahaluan:
Ada banyak makna mengenai pakaian ataupun jubah yang dicatat dalam Alkitab.  “Pelajaran pekan ini akan membahas beberapa pertanyaan mengenai pakaian pada zaman Yesus.  Kita akan mempelajari seorang wanita yang percaya, bahwa hanya dengan menjamah jubah Yesus, dia akan disembuhkan.  Kemudian Yesus, yang meanggalkan jubah-Nya agar dapat membasuh kaki murid-murid-Nya.  Lalu kita melihat imam besar, yang berdiri di hadapan Tuhan, dan mengoyak jubahnya sendiri mengisyaratkan berakhirnya masa kepemimpinan para tokoh agama waktu itu.  Selanjutnya, Yesus dalam jubah kerajaan, yang dipakaikan oleh tentara Roma untuk menghina Dia.  Dan pada akhirnya kita akan melihat para tentara yang membuang undi atas jubah Kristus, dengan demikian menggenapi nubuatan purbakala.”  SSD 11 Juni 2011.  Inilah yang menjadi inti pelajaran kita pada pekan ini, “jubah pada zaman Yesus”.

“Siapa Yang Menjamah Jubah-Ku?”  Mark. 5:24-34; luk. 8:43-48.
Pada cerita ini, kita dapat melihat, ada banyak orang yang mengikuti Dia dan berdesak-desakkan di dekat-Nya.  Tentunya, banyak yang juga orang yang menyentuh jubah-Nya.  Itu sebabnya, ketika Yesus bertanya, “siapa yang menjamah jubah-Ku?”, Petrus menjawab:  “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya:  Siapa yang menjamah Aku?”

Dari fakta ini, kita mengetahui, Yesus tidak sedang mencari siapa yang menjamah jubah-Nya, namun Dia sedang mencari Iman di antara orang-orang yang berdesakkan di dekat-Nya.  Dia mencarinya untuk menyatakan kuasa-Nya (kesembuhan kepada wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun, Mark. 5:25) dan untuk dijadikan contoh bagi para pengikut-Nya yang lain.

“Pengobatan pada waktu itu masih sangat sederhana.”  SSD, 12 Juni 2011.  Itu sebabnya, bisa dipastikan banyak orang sakit pada waktu itu, dan bisa dipastikan, beberapa dari orang sakit itu ada berdesak-desakkan dengan orang banyak di dekat Yesus, namun, hanya satu yang disembuhkan pada waktu itu.  Mengapa?  Wanita ini datang dengan iman!  “Wanita ini memiliki iman yang kuat pada Yesus, dia cukup percaya bahwa jika saja dia dapat menjamah jubah-Nya, dia akan disembuhkan.  Pastilah, bukan jubah itu yang menyembuhkannya-bukan juga jamahannya.  Melainkan… iman yang dinyatakan lewat perbuatan”.  Ibid.  Di tengah-tengah keputusasaannya, menyadari tidak ada seorang manusiapun yang dapat menolongnya, Mark. 5:25,26, dia mengambil keputusan untuk datang kepada Tuhan, dan percaya pertolongan hanya datang dari pada-Nya.  Suatu keputusan yang sangat tepat, inilah iman itu.

“Bagaimanakah kita dapat belajar datang pada Tuhan, seperti wanita ini, datang dalam iman dan penyerahan, karena sadar akan ketidakberdayaan kita?”  Ibid.

Dia “Menanggalkan Jubah-Nya”  Mat. 20:20-28; Yoh. 13:1-16.
Pada waktu di ruang atas, saat perjamuan malam Yesus dan murid-murid, “suasana tidaklah baik.  Baru saja, murid-murid itu memperebutkan kedudukan tertinggi dalam kerajaan Surga.”  SSD, 13 Juni 2011. Mat. 20:20-28.  Di sana terdapat kesombongan dari dua murid, iri hati dari sepuluh murid, rencana jahat dari 1 murid, membuat suasana perjamuan itu tegang.

Dengan suasana itu, tidak ada yang mau untuk membasuh kaki sesamanya.  Pekerjaan membasuh kaki adalah pekerjaan seorang hamba.  Pada saat itu, Yesus, menanggalkan jubah-Nya, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya, Yoh. 13:4,5.  “Saat Yesus menanggalkan jubah-Nya dan mulai membasuh kaki mereka, hati mereka luluh.  Mereka telah menobatkan-Nya sebagai Anak Allah sebelumnya, Mat. 21:1-10.  Dan Anak Allah itu membungkuk untuk melakukan pelayanan yang menempelak kesombongan mereka.  Ayat ini mengatakan bahwa sebelum Dia melakukan pembasuhan kaki, Dia menanggalkan jubah-Nya, menunjukkan kerelaan-Nya untuk merendahkan hati serendah-rendahnya selayaknya seorang hamba.  Ibid.  Huruf miring ditambahkan.  Dengan menjangkau kaki murid-murid-Nya, Dia telah menjangkau hati mereka dan meluluhkannya.

Bisakah kita mengikuti telah kerendahan hati dari Yesus?  Terlebih rendah hati kepada orang yang sombong?  Yesus adalah Allah yang Maha Tahu.  Dengan tindakan-Nya, Dia tahu siapa yang akan bertobat dengan perbuatan-Nya dan siapa yang tetap dalam dosanya, bahkan akan menghianati Dia sesudah Dia merendahkan diri.  Namun, apa yang Dia lakukan?  Apakah Dia hanya membasuh kaki orang yang Dia tahu akan bertobat, dan tidak membasuh kaki orang yang Dia tahu tidak akan bertobat?  Bahkan menjual Dia?

Kerendahan hati adalah sebuah keharusan bagi mereka yang menjadi pengikut Tuhan.  Kita tidak dapat berkata:  “nanti kalau saya buat ini, dia akan semakin menjadi-jadi dan dia akan semakin merendahkan saya”.  Yesus tidak pernah melakukannya.  Bahkan, Dia membasuh kaki Yudas yang Dia tahu sebentar lagi Yudas akan menjualnya.  Jika kita menjadi Yesus, relakah kita “membasuh kaki” orang yang pasti akan “menjual” kita?  Atau sebaliknya, kita menjadi seperti dia?  Kita “jual” balik orang yang “menjual” nama baik kita?

“Mengoyakkan Jubahnya” Mat. 26:59-68; Im. 21:10; Mark. 15:38
Pada waktu Yesus di bawah di hadapan Imam Besar Kayafas, mereka berusaha untuk mencari alasan untuk dapat membunuh Yesus.   Akhirnya, Imam Besar Kayafas bertanya:  “apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.”  Mat. 26:63.  Yesus tentunya tidak bisa berdusta.  Dia adalah Anak Allah, itu sebabnya, Dia menjawab:  “Engkau telah mengatakannya.”  Mat. 26:64.  Mendengar jawaban Yesus, “Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: ‘Ia menghujat Allah.”  Mat. 26:64,65. 

Jubah keimamatan melambangkan tabiat Allah yang sempurna, lih. Pel. 5.  Itu sebabnya, dalam keadaan apapun, jubah itu tidak boleh dirobek, Imamat 21:10.  Dengan merobek jubah, melambangkan mencela akan tabiat Allah.  Kayafas mengatakan, Yesus menghujat Allah.  Setelah itu dia merobek jubah keimamatannya.  Merobek jubah berarti menodai tabiat Allah yang berarti menghujat Allah.  Kayafas menuduh Yesus menghujat Allah, namun, pada prakteknya, dialah penghujat itu dengan cara merobek jubah keimamatan.  Demikian juga dengan kita, berapa sering kita seperti Kayafas.  Kita menuduh orang, namun kita sendiri banyak melakukan kesalahan.  Yesus berkata:  “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”  Mat. 7:3.

Pada waktu Yesus mati, “tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah”  Mat. 27:51.  Suatu lambang bahwa pelayanan Bait Suci di bumi sudah berakhir pada waktu kematian Yesus, Ef. 2:15; Kol. 2:14.  Kayafas merobek jubah Imam Besar suku Lewi merupakan sebuah lambang berakhirnya sistem keimamatan suku Lewi.  Sekarang, pelayanan yang baru dimulai, domba yang sesungguhnya sudah datang, yaitu Yesus Kristus, Yoh. 1:29.  Sistem kaabah yang di bumi berakhir, dan kini dimulai dengan sistem Kaabah yang ada di Sorga, Ibr. 8:1,2 dan jubah keimamatan yang baru, dipakai oleh Yesus sebagai Imam Besar, Wah. 1:12,13.  Apa makna hal ini untuk kita? 

Catatan buku Ibrani menyatakan:  “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”  Ibr. 4:16.  Fakta bahwa Yesus adalah Imam Besar yang melayani di Kaabah Sorga adalah sebuah kabar baik bagi kita.  Kita manusia tidak mampu menghadapi pencobaan kehidupan yang begitu berat.  Yesus mengetahui akan hal ini.  Dan melalui pelayanan keimamatan-Nya di Bait Suci di Sorga, Dia menawarkan pertolongan kepada kita.  Janji ini pasti!  Mari kita datang kepada-Nya!

Sesudah Kayafas merobek jubahnya, dia bertanya apa yang harus dilakukan terhadap Yesus, dan mereka serentak menjawab:  “Ia harus dihukum mati”, ay. 66.  Mengapa mereka mau membinasakan Yesus?  Ini disebabkan “oleh kebencian, iri hati, dan ketakutan” disaingi oleh pengaruh Yesus.  Coba kita renungkan, jika sifat kebencian, iri hati, takut disaingi, ada pada diri kita, dan kita hidup pada zaman Yesus, maka, adalah sangat mungkin, kita ada dalam kelompok imam-imam yang mau membunuh Yesus.  Pada waktu ada orang lain yang memperoleh pencapaian melebihi kita, apa respons kita? Apakah kita iri?  Benci? Takut tersaingi?  Apakah kita mau “membinasakan” orang itu?  Jika jawabannya adalah Ya, hal ini berarti kita tidak ada bedanya dengan Imam-imam yang menginginkan kematian Yesus!  Berdoalah!  Supaya Allah mengambil sifat itu dari kita.

Jubah Penghinaan.  Mat. 27:27-29; Luk. 23:10,11; Mark. 15:17-20.
Di istana Pilatus, Yesus menderita penghinaan.  Sehubungan dengan pelajaran ini, Yesus dipakaikan jubah ungu (mungkin jubah bekas, karena tidak mungkin jubah yang bagus dipakaikan ke Yesus yang berlumuran darah).  Sesudah itu mereka memakaikan mahkota yang terbuat dari belukar berduri.  Mereka menutup mata dan memukul-Nya dan menyuruh Dia menebak siapa yang memukul-Nya.  Mereka menyembah dan kemudian meludahinya, kemudian memukul kepala yang bermahkota duri itu dengan menggunakan sebatang kayu, Mat. 27:27-30.  Sungguh merupakan suatu penghinaan yang ditanggung oleh Yesus.

Yesaya dalam nubuatannya menyatakan:  “Ia [Yesus] sangat dihina.”  Yes. 53:3.  Namun, apa responsnya?  “Dia dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri-Nya ditindas dan tidak membuka mulut-Nya”.  Lebih lanjut, Yesaya menyatakan  “seperti Anak Domba yang dibawah ke pembantaian;…  Ia tidak membuka mulut-Nya.”  Yes. 53:7. 

Sangat menarik,  buku Wahyu menggambarkan:  genrasi terakhir, yang akan menyanyi lagu kemenangan di atas bukit Zion, adalah mereka “yang mengikuti Anak Domba itu”, Wah. 14:4.  Jadi, jika kita mau menang, mau berdiri di bukit Zion Bersama Anak Domba yaitu Yesus, (Yoh. 1:29), dan menyanyikan lagu kemenangan, kita harus mengikuti Anak Domba itu, terlebih khusus, teladan Anak Domba itu ketika dibawah ke tempat pembantaian.  Jika kita tidak dapat mengikutinya, mungkin kita bukan pengikut Anak Domba, kita adalah pengikut “singa yang mengaum-ngaum”, 1Pet. 5:8.  Mengapa?  Karena karakter membalas sesungguhnya adalah karakter singa, bukan karakter Anank Domba.

“Mereka Membagi-bagi Pakaian-Ku”  Yoh. 19:23,24; Maz. 22:19.
Ini menceritakan tentang jubah Yesus pada waktu Dia disalibkan.  Bayangkan perasaan Yesus waktu disalib.  Orang-orang mengolok-olok dia.  “Para imam menyerang ototritas Yesus dari segi rohani, para tentara mencela kedaulatan kekuasaan-Nya”  SSD, 15 Juni 2011.  “Beban dosa seisi dunia dipikul-Nya,”  dan yang paling menyedihkan, “keterpisahan dari Bapa-Nya”.  Sementara itu, para serdadu, tepat di bawah-Nya, membagi-bagi pakaian-Nya dan membuang undi”.  SSD, 16 Juni 2011. 

Ketika Yesus melihat pakaian-Nya diundi, apa yang ada dipikiran-Nya?  Kita bisa pastikan, Dia mengingat apa yang dituliskan tentang Dia dalam Maz. 22:19.  Ketika Dia melihat akan penggenapan ini, apa yang Yesus rasakan?  “Ini menambah keberanian-Nya untuk dapat bertahan menghadapi saat-saat terakhir di kayu salib.”  SSD, 16 Juni 2011.  Kenapa kita bisa pastikan Dia mengingat apa yang tertulis tentang Dia dalam Maz. 22:19?  Karen kita yakin, Dia adalah Seorang Pelajar Kitab Suci.  Hal ini terbukti dari ucapan-ucapan-Nya seperti:  “ada tertulis”, “tidakkah kamu baca”, “apa yang kamu baca”.  Ingatan firman Tuhan itu menguatkan Dia di masa-masa paling sukar yang Ia lalui.

Demikian juga dengan kita.  Jika kita ingin memperoleh kemenangan iman di masa-masa yang paling sukar, kita perlu belajar Kitab Suci.  Jika kita melakukannya, janji-janji kemenangan akan kita temui.  Jika kita mempelajari Kitab Suci, kita akan temukan hal-hal yang tertulis tentang kita (bagaimana cara kita untuk beriman, percaya kepada Tuhan, merendahkan diri,  bagaimana untuk bebas dari:  kebencian, iri hati, dan takut disaingi, bagaimana untuk mengikuti teladan “Anak Domba” sekalipun di “tempat pembantaian”, dan masih banyak lagi hal tentang kita, tentang perjuangan iman kita, yang ditulis dalam Kitab Suci.  Jika kita membacanya, kita akan menemukan apa yang tertulis tentang kita dan itu akan menuntun dan menguatkan kita untuk menggapai kekekalan.  Itu akan menguatkan kita di masa-masa yang paling sulit yang kita hadapi.

Di salib, Yesus melihat penggenapan nubuatan tentang jubah-Nya.  Dia sudah melihat penggenapan-penggenapan nubuatan yang lain juga dan itu membuat Dia bertahan di Salib, karena Dia tahu, proses penebusan itu hampir selesai.  Ketika kita melihat nubuatan-nubuatan akhir zaman digenapi, ketahuilah, penggenapan nubuatan-nubuatan yang lain sudah dekat dan pasti.  Kecurahan Roh itu pasti dan sudah dekat.  Demikian juga ramalan-ramalan dalam Matius 24, Daniel, dan Wahyu, semuanya itu pasti dan sudah dekat.  Kiranya dengan kepastian itu, akan membuat kita semakin mempertahankan kasih kita, menguatkan iman kita, membuat kita semakin rendah hati, menghilangkan:  kebencian, iri hati, dan ketakutan tersaingi, semakin memantulkan karakter Yesus, lebih rajin belajar Alkitab dan berdoa.  Mengapa?  Karena dengan digenapinya nubuatan-nubuatan itu, kita tahu, iman kita tidak sia-sia!  Ada pahala bagi mereka yang menurut.  Ada keselamatan bagi mereka yang mempertahankan karakter Kristus di tengah-tengah badai penderitaan yang terberat sekalipun.

Jumat, 10 Juni 2011

Penerima 7 Kutuk

Selamat Sabat!  Ingin sharing sedikit. Tadi siang, sementara istirahat, saya coba melanjutkan membaca buku Wahyu, melanjutkan dari pasal 14 dan seterusnya.  Setiba di pasal 16, saya terhenti sejenak dan coba merenungkan apa artinya.  Sini saya bagikan, sebagai renungan bagi kita semua.

Pada waktu 7 kutuk terakhir di curahkan, manusia yang “memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya” akan menerimanya, ay. 2.  Masih sedikit samar-samar siapa mereka ini.  Namun, mari kita coba melihat sedikit lebih jelas tentang siapa mereka ini menurut terang Wahyu 16.

Perhatikan, respons mereka yang menerima 7 kutuk itu. 

Ayat 9:  “dan mereka menghujat nama Allah yang berkuasa atas malapetaka-malapetaka itu”
Ayat 11:  “dan mereka menghujat Allah yang di sorga karena kesakitan dan karena bisul mereka”

Mereka yang menerima 7 malapetaka ini adalah mereka yang terbiasa menghujat Allah.  Mereka mempersalahkan Allah atas malapetaka yang mereka derita.  Hal ini menunjukkan siapa diri mereka sebelum malapetaka-malapetaka ini terjadi:  orang-orang yang terbiasa mempersalahkan Allah atas penderitaan selama mereka hidup di dunia yang penuh dosa dan penderitaan ini.

Jika Anda melihat tentang hal-hal ini:  malapetaka-malapetaka, kesakitan, bisul, dan menghujat nama Allah, kisah dalam Alkitab yang Anda ingat?  Ayub bukan!  Ya, Ayub.  Dia menderita banyak malapetaka:  lembu, sapi, keledainya dirampas, para pekerjanya dibunuh (mungkin dia harus bayar asuransi untuk mereka?), api dari langit membakar kambing domba dan penjaganya, untanya dirampas, anak-anak lelaki dan perempuannya ditimpa badai dan mati, istrinya menekan dia, dan dia sendiri kena bisul. 

Pada waktu dia mengalami ini semua, istrinya berkata kepadanya:  “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu?  Kutukilah Allahmu dan matilah!”  Jawab Ayub:  “Engkau berbicara seperti perempuan gila!”, Ayub 9:9,10.  Kita lihat, ada dua respons Ayub:  Dia tetap mempertahankan kesalehannya dan dia tidak mau mengutuki Allahnya.  Bahkan, Ayub berkata:  “Though he slay me, yet will I trust in him”  (Meskipun Dia [Tuhan] membunuh aku, aku tetap percaya kepada-Nya)   Ayub 13:15 KJV.  Suatu iman yang sangat kuat yang dimiliki oleh Ayub.  Dia tidak mempersalahkan Allah, dia mempertahankan kesalehannya, dan dia tetap percaya kepada Allah, sekalipun Allah yang membunuh dia.  Inilah iman itu, iman yang tidak goyah oleh badai pencobaan.

Di akhir zaman, zaman di mana kita hidup, iman seperti Ayub harus ada kepada mereka yang menyebut dirinya umat Tuhan, iman itu harus ada pada mereka yang mau bertahan sampai kesudahan, iman itu harus ada kepada mereka yang mau selamat iman yang:  mempertahankan kesalehan, tidak mempersalahkan Allah, dan tetap percaya kepada Allah di tengah badai yang paling besar sekalipun.  Renungkan, berapa kali kita kehilangan kesalehan kita di waktu pencobaan yang kecil-kecil.  Bagaimana dengan hal yang lain? 

Tidak heran, sehubungan dengan akhir zaman, Yakobus mengingatkan:  “Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum.”  Mengapa?  “Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu (Kedatangan Yesus sudah dekat)….  kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub…”  Dengan kata lain, di akhir zaman, menjelang kedatangan Yesus, kita harus memiliki iman yang seperti Ayub.

Ingatlah hal ini, pada waktu 7 kutuk dicurahkan, manusia yang suka mempersalahkan Allah akan menderita dengan sangat.  Namun, ingatlah, ada satu kelompok juga yang akan menderita di masa itu, bahkan lebih menderita lagi.  Mereka adalah kelompok 144.000.  Alkitab mencatat, pada saat yang bersamaan dengan 7 kutuk yang diterima oleh penghujat, mereka yang setia ini akan mengalami “siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi.” Mat. 24:21.

Jadi, di masa itu ada dua kelompok yang akan melewati masa kesukaran.  Namun, yang akan membedakan mereka adalah ucapan bibir mereka.  Kelompok yang satu menghujat Allah, kelompok yang satu berharap dan beriman kepada Allah.  Mereka tidak menghujat Allah atas malapetaka besar yang mereka alami.  Pada masa itu, mereka akan diserahkan, disiksa, dibenci, namun, tidak ada kalimat kutukan keluar dari bibir mereka.  Mengapa?  Hal itu sudah menjadi kehidupan mereka sebelum masa kesukaran itu tiba.

Menjadi renungan bagi kita semua.  Pada waktu kita menghadapi pencobaan, penderitaan, kesakitan, apa respons kita?  Apakah kita tetap mempertahankan kesalehan dan tetap percaya kepada Allah?  Atau kita mulai mencari kambing hitam, mulai menyalahkan Allah?  Renungkan saudaraku, respons kita saat ini, akan menentukan di kelompok mana kita berada pada waktu masa kesukaran itu.  Kelompok yang akan melewati masa kesukaran Yakub atau kelompok yang akan menerima 7 kutuk?  Berdoalah, berusahalah, supaya kita memiliki iman yang dimiliki oleh Ayub.  Amin.  

Rabu, 08 Juni 2011

Jubah Pernikahan


Ayat hafalan:  “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukuman dosa dan hukuman maut.”  Roma 8:1,2.

Pendahuluan:  Sejarah Kristen penuh dengan lembaran hitam.  Mengapa?  Karena tidak semua yang mengaku Kristen menghidupkan kehidupan Kristen.  Yesus berkata:  “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”  Mat. 22:14.  Mereka yang dipanggil, belum tentu “layak” untuk dipilih.  Siapakah mereka yang pada akhirnya dipandang layak untuk dipilih?  Inilah yang menjadi inti pelajaran pada pekan ini. 

Intisari Pelajaran: 
Matius Pasal 22 dilatarbelakangi dengan usaha dari orang Farisi, ahli-ahli Taurat, dan Imam-imam untuk menjerat Yesus  (Mat. 21).  Mereka merupakan bangsa pilihan, namun mereka menunjukkan sikap yang membuat mereka tidak layak menjadi bangsa pilihan.  Untuk alasan ini, Yesus memberikan “perumpamaan tentang perjamuan kawin” dalam Matius 22.

Dalam ayat 1, 2,  Yesus mendahului perumpamaan-Nya tentang perjamuan kawin.  Tidak dicatat pada bagian ini, bahkan pada ayat-ayat selanjutnya dalam pasal ini bahwa pengantin itu sudah ada pada pesta.  Kita mengetahui dalam kebiasaan, biasanya pengantin itu datang pada waktu semua sudah beres.  Pengantin tidak datang pada saat para undangan sementara diundang, dia tidak datang juga pada saat undangan lagi berdatangan, bahkan, pada waktu hidangan sudah tersedia dan undangan sudah datang, biasanya kita harus menunggu beberapa saat baru pengantin itu datang.  Seperti inilah gambaran pesta ini.  Pesta ini tidak menyinggung saat-saat bersama pengantin.  Waktu dalam perumpamaan pesta ini adalah saat hidangan tersedia, undangan dijalankan, undangan datang menghadiri, pemeriksaan undangan oleh raja yang berpesta.  Namun, cerita ini tidak berlanjut sampai kepada datangnya pengantin.  Cerita ini hanya berhenti sampai pada para undangan siap menyaksikan pengantin datang.

Dalam ayat 3-6, di sini kita melihat undangan yang pertama.  Mereka adalah orang-orang pilihan.  Mengapa?  Karena yang mengundang adalah raja.  Kita ingat pernikahan pangeran William dan Kate, hanya orang-orang pilihan yang diundang dalam pesta itu.  Berdasarkan latar belakang cerita ini, kita dapat mengerti bahwa, ini menunjuk kepada bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan Allah.  Namun, respons mereka terhadap panggilan itu menyatakan mereka tidak layak untuk panggilan itu.

Dalam ayat 7, kita dapat melihat akibat penolakkan mereka.  Penolakan mereka mengakibatkan kebinasaan mereka dan kota mereka.  Ini adalah suatu lambang kematian orang-orang Yahudi yang menolak Yesus.  Mereka mati dalam kota mereka, kota Yerusalem, ketika kota itu dihancurkan oleh Titus pada tahun 70.  Sebelum tahun 70, tentara Roma sudah datang mengepung kota itu.  Namun, karena alasan lain, mereka meninggalkan kota itu.  Saat tentara-tentara meninggalkan kota itu, orang-orang yang percaya Yesus segera meninggalkan kota itu.  Mereka percaya apa yang tertulis dalam Matius 24:15-18.  Sedangkan orang-orang yang tidak percaya, mereka tetap tinggal, dan ketika tentara Roma dibawah pimpinan Titus kembali pada tahun 70, dia membinasakan semua yang tinggal di Yerusalem, mereka yang tidak percaya nubuatan Yesus, dihancurkan bersama-sama dengan kota Yerusalem pada saat itu.

Dalam ayat 8, Yesus memberikan alasan kenapa Dia menolak mereka sebagai bangsa pilihan.  Mereka dinyatakan “tidak layak”.  Mereka dinyatakan tidak layak karena mereka sendirilah yang menyatakan diri “tidak layak” melalui sambutan mereka terhadap undangan raja.  Hal itu sebenarnya tidak datang dari pihak raja, namun dari para undangan yang menolak undangan itu.  Mereka dinyatakan tidak layak, karena mereka menolak undangan itu.

Dalam ayat 9-10, panggilan itu ditujukan kepada siapa saja yang ditemui.  Suatu gambaran yang sangat tepat dengan keadaan orang Yahudi.  Sesudah mereka menolak Kristus, akhirnya mereka ditolak, dan suatu kelompok yang baru bangkit menggantikan tempat mereka.  Itu adalah gereja mula-mula yang terdiri dari orang-orang kafir yang mau menerima Yesus dan juga sebagian orang Yahudi yang pada akhirnya menerima Kristus.

Dalam ayat 11-14 menyatakan, memang panggilan itu pada akhirnya diberikan kepada semua orang.  Namun, bukan berarti raja itu telah menghilangkan ketentuan pestanya.  Suatu aplikasi yang sangat cocok untuk keadaan ini.  Walaupun orang Yahudi sudah ditolak dan akhirnya pekabaran itu diberikan kepada bangsa-bangsa lain, bukan berarti itu menghilangkan ketentuan-ketentuan yang telah Allah buat.  Itu tetap berlaku.  Ketentuan-ketentuan itu begitu penting, sehingga mereka yang walaupun menerima undangan itu, namun tidak mematuhi undangan itu, mereka akan memiliki nasib yang sama dengan mereka yang menolak undangan itu.  Nasibnya adalah:  dibinasakan!

Namun, sebagaimana Matius 24 yang memiliki dua kegenapan, demikian juga perumpamaan ini.  Ini memiliki kegenapan pada zaman Yesus dan rasul-rasul, juga memiliki kegenapan di akhir zaman.  Mengapa?  Karena perumpamaan ini sedang membicarakan undangan pesta sampai kepada sesaat sebelum pengantin itu datang.  Dengan demikian, penggenapan akhir zaman terhadap perumpamaan ini adalah sejak dikumandangkannya pekabaran malaikat pertama sampai kepada sesaat sebelum kedatangan Yesus.  Pekabaran “sembahlah Dia” dalam Wah. 14:7 merupakan undangan itu.  Sejak saat itu, sampai sebelum kedatangan Yesus, respons umat-umat Tuhan sangat menentukan keselamatan mereka.  Seperti apa respons-respons yang dikemukakan oleh para penolak-penolak itu?  Mereka “tidak mau datang” (ay. 3) dan mereka “tidak mengindahkannya” (ay. 5).  Apa alasan-alasan yang mereka kemukakan?

Kelompok yang pertama, mereka pergi ke ladangnya, ay. 5.  Rupanya kelompok ini baru membeli lading (Luk. 14:18).  Faktanya, ladang itu sudah dibeli.  Tidak ada hal yang perlu dikuatirkan.  Alasan ini sungguh tidak tepat dan tidak masuk diakal jika dibandingkan dengan penghargaan seorang raja yang memberikan dia undangan untuk itu.  Demikian juga dengan kita, undangan untuk datang kepada Tuhan melalui doa dan membaca Alkitab kelihatannya kita kurang menghiraukannya.  Terkadang kita membuat suatu alasan yang sangat tidak masuk diakal supaya kita tidak datang.  Mungkin kita berkata, Tuhan, sinetron ini terlalu bagus, saya harus melihat kelanjutan ceritanya.  Tuhan, saya lebih suka untuk internetan dari pada berhubungan dengan Engkau.  Tuhan, saya mau jalan-jalan dulu di Mall.  Tuhan, saya mau refreshing dulu.  Tuhan, saya mau tidur dulu.  Maafkan saya, saya tidak ada waktu untuk datang pada-Mu!  Dengan melakukannya, tanpa disadari, kita sudah mewakili kelompok yang pertama yang menolak undangan itu.

Kelompok yang kedua, mereka pergi mengurus usahanya, ay. 5.  Kelompok yang kedua ini, mereka adalah orang yang sepertinya memiliki alasan yang tepat.  Mereka orang yang terlalu sibuk dengan usahanya.  Sepertinya usahanya akan menghasilkan uang yang sangat banyak, kemungkinan juga, orang ini berpikir bahwa uang itu akan berguna untuk orang lain.  Dia lebih mementingkan usahanya dibandingkan dengan panggilan untuk menyembah Tuhan.  Dia meminta dimaafkan, namun, apa yang terjadi?  Tak ada maaf bagi orang ini, ay. 7.  Dia telah menghilangkan bagian yang terpenting dalam hidupnya, yaitu:  hubungan pribadi dengan Tuhan.  Mungkin nasihat ini cocok untuk kelompok yang kedua:  “Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan”  Ul. 8:18. 

Kelompok yang ketiga mengatakan, “Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya”, Luk. 14:18.  Sepertinya kelompok ini mewakili kelompok petani.  Kesibukkan pertaniannya membuat dia beralasan tidak ada waktu untuk Tuhan. 

Kelompok yang keempat mengatakan, “Aku baru kawin dank arena itu aku tidak dapat datang.”  Luk. 14:20.  Faktanya dia sudah selesai menikah.  Justru, dia dapat membawa istrinya untuk ikut dalam pesta itu.  Namun, mungkin kita sedikit mengerti akan alasannya.  Dalam tradisi di daerah saya, orang yang baru menikah akan sibuk dengan keluarganya.  Karena saat itu, keluarga dari dua belah pihak datang berkumpul.  Sepertinya, orang ini menggunakan alasan keluarga untuk beralasan.  Bagi dia, keluarga adalah nomor satu.  Dia tidak dapat menuruti perintah Tuhan karena alasan keluarga.  Namun, Yesus berkata:  “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.”  Mat. 10:37.

Kelompok penolak yang kelima dalam cerita ini, sepertinya tidak memberikan banyak alasan.  Namun, tindakannya menyatakan bahwa dia tidak suka dengan raja itu.  Wujud dari rasa tidak suka kepada raja ini dinyatakan dengan perlakuannya, dia menangkap pembawa undangan itu.  Tidak puas dengan hanya menangkap, dia menyiksa.  Namun, rupanya itu belum cukup.  Pada akhirnya dia membunuh utusan raja itu.  Hal ini menunjukkan bahwa tindakan “tidak suka” kepada raja dan utusannya ini semakin lama semakin meningkat.  Demikianlah dengan kelompok yang kelima.  Ketika ada utusan Tuhan yang mengajak untuk datang kepada Tuhan dengan cara mengaku dosa kepada Tuhan dan meninggalkan dosa-dosa, orang ini sangat tidak menyukainya.  Ketika ada utusan yang menyerukan pekabaran-pekabaran untuk persiapan kedatangan Tuhan, kelompok ini bukannya semakin menyadari, justru mereka semakin menolak pekabaran itu.  Hujung-hujungnya, mereka menyiksa dan membunuh juru kabar itu.  Apa artinya?  Mereka menjadi kelompok penganiaya.  Jadi, apabila kita membiasakan roh menolak pekabaran-pekabaran untuk persiapan kedatangan Tuhan, pada hujung-hujungnya, kita akan bergabung dengan kuasa penganiaya yang akan menerima 7 malapetaka di akhir zaman.

Sebelum lanjut, coba pikirkan sejenak.  Siapa yang tidak suka dengan undangan raja?  Sepertinya tidak ada orang yang tidak suka dan sepertinya, semua orang akan merasa sangat dihargai apabila undangan itu datang dari raja, sepertinya juga, orang yang menerima undangan raja itu akan berusaha semampunya untuk hadir dalam acara itu.  Namun, kenyataannya, mereka menolak!  Apa sebenarnya yang terjadi?  Sangat mungkin, undangan itu disertai dengan ketentuan-ketentuan acara perjamuan kawin dan ketentuan-ketentuan itu tidak disukai oleh penerima undangan itu.  Demikian juga dengan kita yang menerima undangan itu, mungkin kita suka bahkan sangat suka untuk masuk Sorga, namun, kita tidak menyukai jalan untuk ke sana!  Sangat tepat Yesus mengatakan:  “Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”  Mat. 7:14.

Jadi, dari alasan-alasan yang dikemukakan di sini, sepertinya, sudah mewakili kelompok besar aktivitas-aktivitas manusia sehari-hari.  Dengan kata lain, apapun alasan kita, itu tidak dibenarkan jika kita menolak panggilan untuk datang kepada Tuhan.  Faktanya, raja itu murka kepada mereka yang sudah menolak panggilan itu. 

Akhirnya, panggilan itu ditujukan kepada setiap orang yang dijumpai, Mat. 22:10.  Mereka menerima panggilan ini.  Namun, hal ini tidak menyelesaikan masalah itu.  Muncul lagi masalah yang baru.  Seseorang tidak memakai pakaian pesta!  Apa lambang pakaian ini?  Ellen White menuliskan: “Pakaian pernikahan dalam perumpamaan ini melambangkan karakter Kristus yang murni dan tidak bernoda yang dimiliki oleh pengikut-Nya yang sungguh-sungguh.”  COL. 310.  Bagaimana dengan nasib dari orang ini?  Dia mendapatkan kebinasaan seperti layaknya orang-orang yang menolak panggilan itu, ay. 7,13.


Sebelum pengantin datang, raja itu mengadakan pemeriksaan.  Ini adalah suatu gambaran yang sangat tepat dengan keadaan kita saat ini.  Kita sedang menunggu kapan pengantin itu datang.  Ellen White dalam suatu penglihatan, dia melihat meja itu telah tersedia di Sorga, EW. 20. Namun, sebelum pengantin itu datang, akan ada pemeriksaan.  Hal inilah yang kita sebut dengan pengadilan pemeriksaan yang dimulai sebelum kedatangan Yesus.  Hal ini akan berlanjut sampai pada waktu Yesus datang.  Kita harus didapati mengenakkan jubah itu (Perhatikan dua pelajaran terakhir bagaimana mendapatkan jubah itu).

Sekarang, mari kita lihat kepada orang yang tidak memakai jubah ini.  Perhatikan, dia menerima panggilan itu, dia berada dalam kelompok itu, namun, dia tidak memakai jubah itu yang merupakan satu ketentuan juga!  Yesus berkata:  “haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu”  Mat. 5:48.  Kita tidak bisa tinggal dalam keadaan suam-suam kuku Laodikea, kita harus melakukan semua perintah Tuhan.  Di masa pemeriksaan ini, “Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan”,  Mat. 23:23.  Allah menuntut kesempurnaan dalam penurutan saat ini..  kita tidak bisa berkata, cuuplah saya jadi Advent, bersama-sama yang lain pada hari Sabat, hadir dalam pertemuan-pertemuan ibadah, ini sudah cukup!  Namun, jika kita tidak menuruti kebenaran-kebenaran saat ini sebagai persiapan-persiapan untuk peristiwa-peristiwa yang ada di hadapan kita?  kita sudah tertipu!  Ingatlah, di pengadilan pemeriksaan ini, mereka yang tidak mau melakukan tuntutan-tuntutan Tuhan akan bernasib sama dengan mereka yang menolak panggilan itu.

Kita tidak bisa tinggal dalam kondisi Laodikea.  Kita menerima panggilan itu, kita ikut bersama-sama dalam kebaktian, namun kita mengabaikan dress reform, health reform, mengabaikan hubungan pribadi dengan Tuhan, mengabaikan reformasi mengejar kepentingan diri, mengabaikan belas kasihan?  Ingatlah, sebelum kedatangan Tuhan, Tuhan akan mencari suatu umat yang sempurna dalam penurutan seperti Kristus.  Mereka seperti Kristus karena mereka memiliki hubungan pribadi dengan Kristus.  Mereka menerima panggilan itu, mereka datang, mengikuti ketentuan-ketentuan acara, dan memakai jubah itu!  Mereka sempurna di hadapan raja yang mengadakan pemeriksaan itu.  Mereka siap untuk kedatangan Tuhan.  Mereka siap untuk makan pada acara perjamuan itu.

Sebagai kesimpulan:  banyak yang dipanggil, tapi sedikit yang dipilih.  Yang tidak dipilih akan dibinasakan.  Kita sudah dipanggil, namun, pertanyaannya, apakah kita sudah dipilih?  Periksa hati kita, jika kita menemukan borok dosa di dalamnya, berdoalah supaya Allah mengganti hati kita dengan hati yang baru, supaya kita dapat sempurna di hadapan-Nya pada waktu pengadilan pemeriksaan itu.

Kamis, 02 Juni 2011

Jubah Baru Anak Yang Hilang


Ayat Hafalan:  “Kita patut bersukacita dan bergembira, karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali; ia telah hilang dan telah dapat kembali”  (Lukas 15:32).

Pendahuluan:  Somerset Maugham menuliskan kisah pendek berjudul “Hujan” menceritakan pengalaman seorang misionaris di Amerika Selatan yang “menobatkan” seorang wanita tuna susila kepada Injil.  Dia sangat berbangga, atas keberhasilannya dalam penarikan jiwa, sekalipun mungkin saja metode yang dia gunakan sedikit kasar.  Dia menyarankan agar wanita ini kembali ke Amerika Serikata (dari mana ia melarikan diri) untuk memenuhi masa hukumannya di penjara, sekalipun wanita ini memohon agar dia boleh terlepas dari siksaan, hinaan, dan hal yang memalukan dalam penjara.  Tetaapi missionaris itu mendesak wanita tersebut bahwa dengan menjalani hukumannya di penjara merupakan bagian dari prose’s pertobatan yang harus dialaminya, itulah sebabnya dia harus menyerahkan dirinya.

Kisah itu berakhir, dengan sangat mengejutkan..  Misionaris itu bunuh diri, tubuhnya yang sudah membusuk ditemukan di pantai.  Apakah yang terjadi??  Rupanya, dia telah jatuh ke dalam dosa perzinaan sesbab menggunakan waktu terlalu banyak dengan wanita itu, kkarena tidak sanggup memaafkan kesalahan yang dilakukannya, dia pun membunuh dirinya sendiri.

Suatu pendahuluan untuk pelajaran minggu ini.  Cerita di atas, secara singkat sepertinya tidak ada hubungan dengan kita.  Namun, ada hubungan yang mendesar dengan kita, dan bahkan semua manusia di dunia yang pernah hidup di dunia ini.  Hubungan itu yang akan kita dalami pada pelajaran pekan ini.  Hubungan itu adalah:  seperti wanita tuna susila dan misionaris ini, kita membutuhkan akan:

1.     Pengalaman pribadi akan kasih karunia
2.     Jaminan Keselamatan

Dua kebutuhan mendasar misionaris, wanita tuna susila ini, yang mewakili semua manusia, dinyatakan dalam perumpamaan anak yang hilang, yang merupakan inti pelajaran pekan ini.

Intisari:  Dalam Lukas 15:1-32, kita mendapati di sana 3 perumapamaan yang hilang. 
Perumpamaan domba yang hilang:  Dia tahu bahwa dia hilang, namun, dia tidak tahu cara untuk kembali ke kandang.  Dibutuhkan seorang gembala untuk mencari, kemudian membawa dia pulang.  Pada waktu dia mengetahui domba itu mengetahui gembalanya menemukan dia, dia sangat senang, dan bersedia untuk dituntun gembalanya ke kandang. Perumpamaan ini mewakili kelompok pertama dari manusia yang hilang.

Perumpamaan dirham yang hilang:  Dia tidak tahu bahwa dia hilang, dan dia tidak tahu untuk kembali.  Untuk mencari dirham ini, diperlukan kecermatan untuk mencari dirham ini, ay. 8.  Sebagaimana domba yang hilang, dibutuhkan seseorang yang harus mencarinya.  Perumpamaan ini menggambarkan kelompok kedua yang hilang.

Perumpamaan anak yang hilang:  Dia tahu dia hilang, dan dia tahu cara untuk kembali.  Proses kembalinya ini yang menjadi inti pelajaran kita pekan ini.

Perumpamaan ini diawali dengan cerita dua orang bersaudara yang tinggal di rumah yang sama.  Mereka menikmati semua yang ada dalam keluarga mereka.  Namun, ada dua karakter yang berbeda dari kedua anak ini.  Hal ini mengingatkan kita kepada Kain dan Habel, juga Yakub dan Esau.  Mereka hidup dalam lingkungan yang sama, namun memiliki karakter yang berbeda. 

Hal apa yang ingin diajarkan Allah di sini?  Itu adalah kuasa memilih.  Dua kakak beradik ini mewakili seluruh makhluk ciptaan.  Setan sebagaimana malaikat lain, menikmati suasana Sorga, namun mereka diberikan kebebasan memilih.  Adam dan Hawa demikian juga.  Tidak lepas dari keadaan kita, kita semua hidup dalam dunia yang penuh dosa dan akibatnya, namun, sebagaimana anak yang hilang ini, suasana bukanlah berarti menentukan siapa kita.  Itu tergantung pada pilihan kita.  Allah menciptakan manusia dengan berkat yang diperoleh jika menurut.  Allah tahu, penurutan pada akhirnya akan membawa kebahagian dan ketidakpenurutan kepada Allah akan membawa kehancuran.  Namun, Allah tidak memaksa manusia untuk menurut.

Dalam cerita anak yang hilang ini, apa kira-kira yang melatarbelakangi anak ini meninggalkan rumah?  Untuk menjawab pertanyaan ini, kita coba tanyakan beberapa pertanyaan:

·      Apa tujuan anak ini?  Kelihatannya dia ingin menikmati kehidupan dengan caranya, ay. 13,14.
·      Apa pekerjaan ayahnya?  Jika dilihat dari pekerjaan yang sulung, kelihatannya bapanya adalah seorang petani.

Perhatikan, bapa ini adalah seorang yang kaya dan bijaksana karena dia punya banyak pegawai dan harta, ay. 12.  Dibutuhkan pengetahuan untuk mengatur para karyawan.  Namun, bapanya memilih pekerjaan pertanian.  Apa sebenarnya yang ada dipikiran ayahnya?  Perhatikan ayat 14, di sana terjadi bencana kelaparan, namun tidak demikian di rumah ayahnya.  Hal ini mengingatkan kita akan cerita Yusuf.  Pada waktu seluruh negeri terjadi kelaparan, negeri yang dipimpin Yusuf tidak kelaparan.  Jadi, dari sini kita bias mengambil kesimpulan bahwa, sepertinya, ayahnya sudah memprediksi bahwa aka nada bahaya kelaparan, karena dia orang yang bijaksana.  Itu sebabnya, ayahnya sengaja memilih bidang pertanian, karena ayahnya tahu bahwa dengan cara ini, dia dapat mempertahankan kebahagian keluargannya dan bahkan orang-orangnya kalau terjadi kelaparan.

Namun, anaknya tidak mau menerima pekerjaan itu.  Dia inginkan satu pekerjaan yang lain.  Dia tidak percaya dengan pekerjaan bapanya.  Dia tidak percaya dengan kebijaksanaan bapanya.  Dia mulai merasa bosan dengan kehidupan yang ditetapkan bapanya yang bijaksana itu.  Keinginan timbul dalam hatinya, “saya harus meninggalkan kehidupan ini.  Ini bukan kehidupan yang saya inginkan.   Masih ada kehidupan yang lebih baik daripada ini”, demikianlah anaknya berpikir.  Tanpa dia sadari, dia sedang memilih kehidupan yang akan mendatangkan maut kepada dirinya jika dia tidak sadari. 
Demikian juga dengan kita, Allah mengetahui bahwa, peraturan-peraturan dalam firman-Nya adalah untuk kebahagian kita.  Namun, kita mulai memikirkan untuk memperoleh kebahagiaan menurut cara kita.   Anak sulung itu, pada dasarnya, pilihan-pilihan kita yang tidak sesuai dengan firman Allah, sekecil apapun pelanggaran itu, itu akan membawa kepada maut, jika kita tidak bertobat.

Bisa dibayangkan, bapanya sedih pada waktu dia melihat anaknya mau meninggalkan rumah.  Bapanya sedih, karena dia tahu apa yang akan dialami anaknya, itu adalah kehancuran hidupnya.  Namun, bapanya menghormati hak memilih anak ini.  Apa yang terjadi kemudian?  Anak ini puas dengan kehidupan seperti yang dia sudah rancangkan.  Dia sangat bergembira dengan pencapaian-pencapaiannya.  Sepertinya dialah manusia yang paling berbahagia di dunia ini pada waktu itu.  Impiannya terkabulkan.  Namun, apa yang terjadi sesudahnya?  Uangnya habis, bukan hanya itu, diikuti oleh bencana kelaparan, belum cukup, kini dia harus bekerja di kandang babi, namun masih ada lagi yang lebih hina, dia harus berebutan makanan dengan babi, dan sialnya, dia tidak memperolehnya.  Pakaiannya kotor dan berbau kandang babi.  Sepertinya, tidak ada yang lebih buruk dari keadaan anak bungsu ini.

Demikian jugalah hasil yang diperoleh oleh orang yang melanggar perintah Tuhan.  Tidak ada yang lebih buruk dari pada itu.  Pelanggaran kepada perintah Tuhan pada dasarnya adalah pilihan yang terburuk yang diambil oleh manusia.

Namun, ada satu hal yang terjadi pada anak ini.  Dia memulai langkah awal dalam pertobatannya yaitu, dia menyadari keadaannya yang begitu buruk itu.  Namun, satu hal yang menarik dari hal ini adalah, hal yang membuat anak ini menyadari keburukannya.  Hal itu adalah penderitaan yang begitu hebat.  Dengan penderitaan yang begitu hebat, dengan sendirinya memaksa anak itu untuk menyadari keadaannya yang berdosa.  Suatu pelajaran yang menarik mengenai penderitaan.  Penderitaan adalah cara Tuhan untuk memanggil manusia berdosa menyadari dosanya dan memanggilnya untuk kembali kepada Tuhan.  Ikuti panggilan itu.  Jangan meninggalkan Tuhan dalam penderitaan.

Anak itu berpikir bahwa dia harus kembali agar dia bisa menyelamatkan hidupnya.  Tidak ada pemikiran yang lebih penting dari ini, dan dia harus melakukannya.  Tanpa kembali, dia akan mati dengan sangat hina, mati dikandang babi.  Demikian juga dengan kita, kita harus kembali kepada Tuhan dalam doa dan kembali melihat firman-Nya, membacanya, merenungkannya, menyelidikinya.  Jika kita tidak kembali, kita akan mati dengan cara mengerikan, mati bersama ular tua dalam hukuman terakhir.

Pada waktu dia datang kepada bapanya,  kata pertama yang dia ucapkan adalah:  “Bapa, aku telah berdosa”, ay. 21.  Suatu hal yang sangat dirindukan Tuhan adalah kesadaran akan diri kita dan kemudian mengakuinya di hadapan Bapa di Sorga.  Akui keberadaan keberdosaan kita.  Pengakuan anak ini terjadi sebelum dia datang kepada bapanya, ay. 17,18.  Dia telah mengakuinya dalam hatinya, setelah dia berhadapan dengan bapanya, dia mengucapkan pengakuan itu dengan bibirnya.  Bukankah ini suatu hal yang kita perlu lakukan juga untuk memperoleh keselamatan itu?

Mungkin hal ini bisa menjadi suatu amaran bagi kita.  Kita semua adalah manusia yang sering jatuh.  Kita tidak membenarkan untuk melakukan dosa dengan alamiah manusia seperti ini.  Namun, ada satu pelajaran yang perlu ditekankan adalah:  pada waktu kita melakukan dosa, berapa sering kita merasa aman-aman saja?  Kita tidak datang dengan penuh penyesalan dan pengakuan?  Bahkan tidak sering, kita merasa diri benar di hadapan Tuhan.  Kita merasa diri rohaniawan di hadapan Tuhan.  Bukankah pelajaran pekan lalu mengingatkan kita, orang yang memegang jabatan paling sucipun di seluruh dunia, tabiat yang dilambangkan dengan jubah, adalah kotor jika berhadapan dengan Tuhan, apalagi kita?

Jika kita merasa diri benar, kitalah orang Farisi itu.  Orang Farisi datang kepada Tuhan dengan tidak memiliki perasaan sebagai orang berdosa.  Apalagi penyesalan?  Itu tidak ada dalam dirinya.  Malahan, yang lebih parah, dia membenarkan dirinya di hadapan Tuhan.  Apa firman Tuhan kepadanya?  Tindakan orang Farisi itu tidak membuat dia tidak dibenarkan.  Dia dipersalahkan oleh Tuhan, Luk. 18:11-14.  Tidak ada yang lebih membahayakan jiwa kita di depan pengadilan selain dipersalahkan oleh Tuhan!

Sekarang, mari kita melihat dari sisi bapanya.  Perhatikan ayat 20.  “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya”.  Yang menjadi bahan pemikiran dan pertanyaan, bukankah anaknya yang mencari bapanya?  Kenapa bapanya yang pertama melihat anak ini, bukan anak ini yang pertama melihat bapanya?  Dari kenyataan ini, kita dapat melihat suasana hati bapa ini.  Kelihatannya, ayahnya begitu merindukan anaknya kembali sehingga ia selalu menunggu kedatangan anaknya itu di depan rumahnya.  Apalagi saat itu terjadi bencana kelaparan.  Sepertinya, ayahnya tahu bahwa anaknya itu ditimpa bencana kelaparan, dan sangat berharap anaknya itu pulang supaya dia selamat dari bencana kelaparan itu.  Apa yang bapa ini lakukan?  Dia terus menanti dengan penuh kesabaran setiap saat, teristimewa pada waktu bencana itu, bapa menunggu dengan sangat rindu melihat anaknya kembali kepada bapanya supaya diselamatkan. 

Bukankah ini suatu gambaran yang sangat tepat tentang Bapa kita di Sorga?  Dia begitu merindukan orang yang berdosa itu kembali kepada-Nya.  Jika kita sudah melakukan pelanggaran, apalagi pelanggaran itu menghasilkan penderitaan dalam hidup kita.  Ketahuilah, Bapa dengan sangat rindu menantikan kita untuk pulang.

Ketika anak ini bertemu dengan bapanya, hal pertama yang dilakukan oleh bapanya adalah memeluk anak itu.  Dengan demikian, terjadilah pemulihan itu.  Hubungan yang dirusak oleh dosa itu, pada waktu Yesus mati, memberikan jaminan dan harapan untuk bisa kembali disatukan.  Namun, persatuan yang sempurna itu terjadi ketika manusia mengambil keputusan untuk kembali kepada Tuhan dengan penuh penyesalan akan dosa-dosanya.  Ingatlah hal ini, bapa itu memeluk anak itu bukan pada saat dia dipakaikan jubah baru, tapi pada saat dia datang kepada bapanya.  Bukankah ini suatu kabar gembira bagi kita?  Hubungan yang retak di taman Eden itu kembali menjadi milik kita dengan sempurna pada saat kita kembali kepada Tuhan.  Tindakan untuk datang kepada Tuhan adalah tindakan yang menentukan keselamatan kita.

Sesudah itu, bapa memerintahkan untuk memberikan jubah yang baru kepada anak ini.  Tanpa keputusan dari anak ini untuk kembali, dia tidak akan memperoleh jubah pesta itu.  Betapa pentingnya untuk datang kepada bapanya dalam cerita anak ini.  Demikian juga dengan kita, apabila kita datang dengan penuh penyesalan akan dosa, kita akan dibenarkan.  Suatu tindakan yang dilambangkan dengan pemberian jubah.
Pada waktu anak ini berada di kandang babi dan sebelum dia bertemu dengan bapanya, dia mengingat dosa-dosanya, dan itu membuatnya sedih.  Namun, setelah dia bertemu dengan bapanya, dia kini bersukacita, ay. 24, sebagai tanda dia tidak mengingat lagi dosa-dosanya.

Ini merupakan suatu pelajaran yang sangat berharga bagi kita.  Sebelum kita datang meminta pengampunan kepada Tuhan, ingatlah akan dosa-dosa kita.  Namun, sesudah kita datang kepada Tuhan, meminta pengampunan-Nya, janganlah mengingat lagi akan dosa-dosa kita.  Itu akan merusak suasana sukacita.  Pada waktu kita sudah datang dengan penuh penyesalan, kita mengaku, tapi kita tetap mengingat-ingat dosa kita, kita berdosa.  Mengapa?  Karena itu merupakan suatu tanda kita tidak percaya kepada Allah.  Kita tidak percaya akan kuasa pengampunan Allah.  Kita mendengarkan suara Setan yang menuduh kita dan memaksa kita untuk tetap mengingat dosa-dosa yang kita sudah akui di hadapan Tuhan.  Apabila kita sudah melalukannya, akuilah itu dihadapan Allah dan percayalah akan kuasa pengampunan-Nya yang sanggup menyelamatakan dari dosa yang paling buruk sekalipun.  Bersukacitalah karena hal itu.

Suatu pertanyaan terakhir, kenapa bapanya mengadakan pesta?  Karena anak yang hilang itu pulang.  Perhatikan hal ini.  Tindakan anak ini untuk pulang ke rumah membuat sukacita seluruh hamba-hamba dari bapanya.  Suatu gambaran yang tepat tentang sukacita Sorga.  Adalah sukacita yang besar di Sorga apabila kita, orang-orang yang berdosa, datang kepada Bapa dengan penuh penyesalan akan dosa-dosa kita dan memohon pengampunan-Nya. 

Sabtu, 28 Mei 2011

Earnest to Give the Final Warning

And after these things I saw another angel come down from heaven, having great power; and the earth was lightened with his glory. Revelation 18:1.
  
Day after day is passing into eternity, bringing us nearer to the close of probation. Now we must pray as never before for the Holy Spirit to be more abundantly bestowed upon us, and we must look for its sanctifying influence to come upon the workers, that the people for whom they labor may know that they have been with Jesus and learned of Him. We need spiritual eyesight now as never before, that we may see afar off, and that we may discern the snares and designs of the enemy, and as faithful watchmen proclaim the danger. We need spiritual power that we may take in, as far as the human mind can, the great subjects of Christianity, and how far-reaching are its principles.

When God’s people humble the soul before Him, individually seeking His Holy Spirit with all the heart, there will be heard from human lips such a testimony as is represented in this Scripture: “After these things I saw another angel come down from heaven, having great power; and the earth was lightened with his glory” (Revelation 18:1). There will be faces aglow with the love of God, there will be lips touched with holy fire, saying, “The blood of Jesus Christ his Son cleanseth us from all sin” (1 John 1:7).

Those who are under the influence of the Spirit of God will not be fanatical, but calm, steadfast, free from extravagance. But let all who have had the light of truth shining clear and distinct upon their pathway, be careful how they cry peace and safety. Be careful what influence you exert at this time.

Jesus longs to bestow the heavenly endowment in large measure upon His people. Prayers are ascending to God daily for the fulfillment of the promise; and not one of the prayers put up in faith is lost. Christ ascended on high, leading captivity captive, and gave gifts unto men. When, after Christ’s ascension, the Spirit came down as promised, like a rushing, mighty wind, filling the whole place where the disciples were assembled, what was the effect?

Thousands were converted in a day. We have taught, we have expected that an angel is to come down from heaven, that the earth will be lightened with his glory, when we shall behold an ingathering of souls similar to that witnessed on the day of Pentecost.—The Home Missionary, November 1, 1893.

This devotional is taken from Ye Shall Receive Power by Ellen G. White.

Jumat, 27 Mei 2011

Satu Simbol yang Direbut dari Api

Pendahuluan: 

Sadar atau tidak sadar, kita semua, tanpa terkecuali, terlibat dalam pertentangan besar.  Pertentangan antara kuasa kejahatan melawan kuasa kebaikan.  Peperangan ini terjadi dalam pikiran kita.  Peperangan ini melibatkan kuasa memilih.  Pilihan kita menentukan kepada siapa kita berpihak.  Namun, suatu hal yang kita tahu, kebenaran, adalah pihak yang pada akhirnya menang.  Pilihan kita sangat menentukan apakah kita akan berada pada pihak yang menang atau kalah.  Peperangan ini digambarkan dalam pelajaran Sekolah Sabat Minggu ini dalam suatu perumpamaan Jubah Imam Besar Yosua yang dicatat dalam buku Zakharia.
Intisari Pelajaran SS:

Buku Zakharia diawali dengan pernyataan bahwa “Allah tidak senang” dan “sangat marah”  Zak. 1:2.  Ini bukan tidak beralasan.  Hal ini karena perbuatan orang Israel yang buruk dan perbuatan yang jahat, ayat 4.  Namun, Allah melanjutkan kata-katanya dengan sebuah panggilan:  “Kembalilah kepada-Ku”, ayat 3.  Dibutuhkan pertobatan dan kerendahan hati untuk menjawab panggilan Allah ini.  Tanpa pertobatan dan kerendahan hati, tidak mungkin kita menjawab panggilan Allah ini.

Kata “Setan” berasal dari akar kata yang sama dengan “menuduh”.  Dengan demikian, sifat menuduh adalah sifat yang sangat erat dengan tabiat Setan.  Orang yang memiliki tabiat suka menuduh, sesungguhnya memiliki tabiat Setan.  Dalam kisah Yosua, Setan digambarkan sebagai seorang penuduh.  Dia menyatakan bahwa Yosua harus menerima hukuman oleh karena dosa-dosanya.  Seandainya, Yosua tidak ada di hadapan Tuhan, maka sudah pasti hukuman itu tidak dapat dielakkan.  Yosua harus menerima hukuman itu.

Perhatikan, tuduhan adalah senjata Setan yang ampuh.  Dia menyatakan bahwa dosa kita terlalu besar dan tidak dapat diampuni lagi.  Dia menyatakan, untuk apa datang di hadapan Tuhan, dosamu terlalu besar.  Jika kita menuruti kata-kata ini, kita tidak datang kepada Tuhan, tujuan Setan tercapai.  Kita tidak dapatkan jubah kebenaran itu, dan itu sudah cukup alasan bagi Setan untuk menuntut jiwa kita sebagai miliknya.  

Namun, ada satu senjata yang lebih ampuh lagi.  Senjata Setan itu adalah:  “Sudahlah…, dosamu tidak seberapa, itu hanya perkara kecil, kenapa kamu repot-repot datang kepada Tuhan untuk meminta pengampunan”.  Senjata ini adalah senjata yang lebih ampuh lagi dari Setan.  Banyak sekali orang yang tertembak senjata ini.  Mereka berpikir itu hanya perkara kecil.  Untuk apa datang kepada Tuhan dan minta ampun.  Tanpa mereka sadari, perkara kecil ini juga, jika kita tidak datang di hadapan Tuhan untuk meminta pengampunan, sudah cukup bagi Setan untuk mengklaim kita sebagai miliknya.  Mengapa?  Karena dosa kita yang kecil itu tidak diampuni.  Pakaian kita masih kotor.  Tidak cocok untuk pesta Anak Domba Allah karena tercemar sedikit dengan dosa-dosa kecil.

Coba kita berpikir sejenak.  Kenapa Yosua yang diangkat dalam ilustrasi ini?  Kenapa bukan Nehemia atau Ezra sebagai pemeran utama pembangunan kembali kota Yerusalem?  Kenapa harus Imam Besar Yosua Bin Yozadak?  Ini suatu gambaran yang sangat tepat tentang siapa manusia ini.  Imam Besar adalah suku khusus untuk mengurus masalah kesucian.  Dan yang paling tinggi posisinya dalam mengurus masalah kekudusan adalah Imam Besar, tentunya kehidupannya harus lebih suci dari pada semua orang.  Mengapa?  Karena dari antara seluruh bangsa, Israel pilihan Tuhan.  Di antara Israel suku Lewilah yang dikuduskan untuk mengurus acara-acara suci.  Dan di antara suku Lewi, Imam Besarlah yang harusnya memiliki posisi kekudusan yang tertinggi.

Namun, apa yang terjadi dengan orang yang bisa dikatakan orang yang paling suci dari semua bangsa?  Jubahnya kotor!  Suatu gambaran yang sangat cocok untuk keadaan manusia itu.  Sehebat apapun usaha kesucian yang dilakukan oleh seorang manusia, usahanya itu bagaikan kain kotor di hadapan Allah.  Harus ada solusi untuk hal ini.  Karena tidak mungkin pakaian kotor bisa menghadiri pesta perkawinan Anak Domba.  Apa solusi yang ditawarkan?  Zakaria 3 adalah jawaban atas hal ini.

Berikut beberapa langkah sehingga Yosua mendapat pakaian bersih itu, pakaian yang siap untuk perkawinan Anak Domba:
  1. Yosua berdiri di hadapan Malaikat Tuhan, Zak. 3:1.  Malaikat Tuhan menggambarkan Yesus Kristus sendiri (Baca Kel. 3).  Jika Yosua tidak berdiri di hadapan malaikat Tuhan, proses pergantian pakaian itu tidak akan terjadi.  Apa maknanya?  Yosua harus datang di hadapan Tuhan barulah proses pergantian pakaian itu dimulai.  Tanpa datang kepada Tuhan, proses pergantian pakaian ini tidak akan terjadi.
  2. Iblis mendakwa Yosua, ayat 1.  Kita melihat dalam pengadilan, proses ini terjadi ketika ada yang menjadi lawan kita.  Hal ini menggambarkan, Yosua padamulanya adalah milik Setan karena dosanya.  Namun, ada sesuatu yang Yosua lakukan, sehingga akhirnya Setan mendakwa dia.  Apa itu?  Itu adalah kesadaran akan dosanya.  Iblis terkejut, dan dia mulai mendakwa.  Di hadapan Tuhan, jangan merasa diri benar.  Akuilah bahwa Anda adalah orang berdosa.  Akuilah bahwa Anda adalah manusia yang rentan jatuh dalam dosa.
  3. Pembelaan Tuhan, ayat 2.  Prinsip Tuhan dalam pemberian adalah ketika kita meminta sesuatu yang seusai kehendak-Nya.  Dari prinsip ini, kita mengetahui, ada sesuatu yang diminta oleh Yosua.  Apa itu?  Pengampunan!  Oleh karena Yosua meminta pengampunan itu, Tuhan membela Yosua dan mengklaim Yosua sebagai milik-Nya.  Darah-Nya cukup untuk membayar Yosua menjadi milik-Nya.
  4. Pakaian kotor ditanggalkan, ayat 4,5.  Kembali pada prinsip di nomor 3.  Tuhan tidak akan menanggalkan pakaian kotor itu kalau Yosua tidak meminta.  Perhatikan, bukan Yosua yang memakai pakaian itu.  Itu dipakaikan kepadanya, 4,5. Ketika kita meminta pengampunan, mintalah juga suapaya Dia menolong kita untuk meninggalkan dosa-dosa kita.  Kemanusian kita tidak sanggup melakukannya.  Kita butuh bantuan Tuhan.  Hanya Tuhanlah yang dapat membuat supaya hidup menurut, baca Yeh. 36:26.  Hal inilah yang disebut dengan pertobatan.
  5. Tawaran penurutan, ayat 6,7.  Perhatikan, Tuhan menggunakan kata “Apabila”, ayat 7.  Ini menunjukkan, penurutan hokum itu adalah tawaran yang diberikan kepada mereka yang sudah diampuni.  Namun, perhatikan, pernyataan Tuhan:  “engkau akan memerintah rumah-Ku dan mengurus pelataran-Ku”.  Perhatikan pernyataan dalam buku Mazmur:  “Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus.” Mazmur 65:5.  Jika kita melihat bagian ini, maka ini adalah tawaran kehidupan bahagia kepada Yosua.  Penurutan kebenaran itu adalah tawaran kehidupan berbahagia.  Tawaran yang diberikan setelah kita melalui proses pergantian jubah. 
Jadi, untuk mendapatkan kebahagian yang sesungguhnya, bahkan kebahagian yang akan berlanjut sampai kepada kekekalan, kita harus melalui proses pergantian jubah.  Pada waktu kita berdosa, segeralah datang kepada Tuhan, sadari dosa kita, minta pengampunan, minta kekuatan dan hati yang baru supaya kita bisa menurut perintah-perintah-Nya, maka kebahagian itu menjadi bagian kita.

Makna Menjadikan Murid


Pernahkah kita memikirkan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:  Kenapa amanat Agung untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus diberikan sesaat sebelum Yesus terangkat ke Surga?  Kenapa amanat ini tidak diberikan sebelumnya?  Kenapa pada waktu Yesus mengutus 12 murid dalam Matius 10:5-15 Dia hanya menyatakan “pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”?  Apakah pada waktu itu Yesus tidak cukup bijak membekali murid-murid?  Kenapa pada saat pengutusan yang pertama itu murid-murid tidak diberikan tanggung-jawab untuk menyampaikan pekabaran itu kepada seluruh dunia?  Mungkinkah ada sesuatu yang Yesus ingin saksikan dari murid-murid sebelum Dia mengutus mereka ke semua bangsa?  Kalau ya, apa itu?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mari kita simak beberapa hal sehubungan dengan hubungan antara Yesus dan murid-murid-Nya.  Pada awal pelayanan-Nya, Dia memilih beberapa orang untuk menjadi murid-Nya.  Sesudah itu, Yesus melatih mereka untuk menjadi penjala manusia.  Dalam proses pelatihan ini beberapa hal ini dialami oleh murid-murid.  Mereka berpikir bahwa Yesus akan menjadi raja, mereka kehilangan pandangan akan kehidupan pelayanan Yesus.  Ada juga yang ingin bersaing menjadi yang terbaik.  Ada juga yang ingin memperoleh posisi yang lebih baik dalam pelatihan ini seperti Yakobus dan Yohanes.  Ada juga yang mudah marah seperti Petrus.  Ada yang sangat tertarik dengan uang dalam pekerjaan ini seperti Yudas.  Ada yang suka menceritakan kelemahan murid yang lain (Yoh. 12:6).  Ada yang tidak mau menderita dalam pelatihan ini, mereka melarikan diri ketika kelihatan tidak ada pertolongan seperti murid-murid ketika Yesus di salib.  Ada juga yang tidak setia kepada komitmen seperti Petrus dan Yudas.  Ada juga yang menjadi buta karena uang seperti Yudas.  Munkinkah hal-hal ini yang membuat Yesus tidak memberikan perintah ini pada waktu itu?

Apa yang terjadi dengan murid-murid pada waktu Yesus disalibkan sampai sebelum Dia terangkat ke Surga?  Mereka mengadakan selalu mengadakan pertemuan dan berdoa bersama (Luk. 24:33; Yoh. 20:19).  Rasa cemburu, iri hati, mementingkan diri, mengejar uang, dan posisi, hilang dari mereka, walaupun munking ini termotivasi oleh rasa putus asa karena pemimpin mereka telah dibunuh dan orang Yahudi ingin juga membunuh mereka (Yoh. 20:19,25).  Topik percakapan harian mereka adalah mengenai Yesus (Luk. 24:14,36).  Mereka mengerti misi Yesus yang sesungguhnya yaitu “harus menderita dan bangkit”  (Luk. 24:45) dan itu bukan hanya sekedar kehidupan tetapi sebuah teladan yang akhirnya diikuti oleh murid-murid dengan penuh sukacita (Kis. 5:41; 1Pet. 2:21-23).   Mereka memiliki komitmen yang tidak goyah memberitakan Yesus apapun yang terjadi seperti yang nyata dalam buku Kisah Para Rasul.  Dan dengan mengerti akan pengorbanan yang Yesus berikan, mereka menjadi sangat mencintai Yesus (Yoh. 21:15-19).  Pada saat hal ini dialami oleh murid-murid, Lukas mencatat “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk....  Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke Sorga”  Mark. 16:15,19. 

Mari kita renungkan, bagaimana kondisi kita saat ini?  Apakah kita masih sama seperti murid Yesus sebelum Yesus mati?  Apakah tabiat-tabiat kita sudah memungkinkan untuk Yesus mempertanggunjawabkan misi khusus ini?  Ataukah masih ada dari tabiat kita yang perlu dibentuk oleh Yesus sehingga Dia dapat mempertanggungjawabkan misi ini kepada kita.  Mari kita berdoa, Tuhan, jadikan tabiat saya menjadi seperti-Mu agar aku layak menyampaikan kasih karunia Tuhan ini kepada semua orang.  Amin.